Tanjungpinang, (19/02/2026) - Bulan Suci Ramadhan segera tiba. Bagi umat Muslim, ini bukan sekadar rutinitas tahunan untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum besar untuk membersihkan diri, memperkuat iman, dan mempererat tali persaudaraan. Dalam sebuah perbincangan hangat di program "Sudut Mata" Pandawa Radio, Prihatmi Eko Diantoro, S.Ag., M.Ag., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanjung Pinang, berbagi perspektif mendalam tentang cara terbaik menyambut bulan penuh berkah ini.
Makna Di Balik Ucapan Selamat Datang
Banyak orang bertanya, mana yang lebih tepat: Ahlan wa Sahlan atau Marhaban ya Ramadhan? Menurut Pak Kyai Prihatmi, keduanya memiliki esensi kebahagiaan yang serupa. Namun secara linguistik, Ahlan wa Sahlan (dari kata ahlun berarti keluarga dan sahlan berarti mudah) mengandung makna bahwa kita menyambut Ramadhan layaknya keluarga sendiri dan bertekad mempermudah segala jalan untuk beribadah. Sementara itu, Marhaban menggambarkan kelapangan dada dalam menerima tamu yang sangat dinantikan.
Ramadhan Sebagai "Kawah Candradimuka"
Menggunakan istilah pewayangan, Pak Kyai mengibaratkan Ramadhan sebagai Kawah Candradimuka, sebuah tempat penggemblengan. Selama sebulan, umat Muslim "ditempa" dengan lapar, dahaga, dan disiplin ibadah agar keluar menjadi insan yang bertakwa.
Ibarat besi yang dibakar dan dipukul berulang kali untuk menjadi keris atau parang yang tajam, manusia pun butuh ditempa agar mentalitasnya kuat dan rohaniahnya tajam. Inilah mengapa Ramadhan sering disebut sebagai madrasah atau sekolah kehidupan.
Menelan "Manisnya Empedu" Ramadhan
Bagi sebagian orang yang belum merasakan nikmatnya ibadah, puasa mungkin terasa berat dan pahit. Namun, Pak Kyai mengutip filosofi penyair Zamawi Imron: "Kujilat manisnya empedu".
Pahitnya empedu (ibarat rasa lapar dan lelah saat berpuasa) sebenarnya adalah obat yang manjur bagi jiwa dan raga. Mereka yang sudah pernah merasakan manfaatnya—seperti terkontrolnya gula darah, kolesterol, serta tenangnya hati—pasti akan merindukan kepahitan tersebut karena tahu bahwa ujungnya adalah manis dan sehat.
Fenomena "Masjid yang Semakin Maju"
Ada fenomena unik di mana saf salat tarawih seringkali "maju" atau semakin sedikit seiring berjalannya hari. Pak Kyai membagi tipologi jamaah menjadi empat tahap:
- Banyak-banyak: Saf penuh hingga keluar di awal Ramadhan.
- Sedikit-sedikit: Mulai berkurang di pertengahan.
- Jarang-jarang: Saf mulai renggang di hari-hari akhir.
- Kadang-kadang: Lebih fokus pada persiapan lebaran daripada ibadah.
Beliau mengingatkan agar kita tidak terjebak dalam "Lailatul Bakar" (sibuk membakar kue atau belanja) sehingga melupakan Lailatul Qadar. Kuncinya adalah Manajemen Waktu. Kita harus mampu membagi waktu antara kebutuhan jasmaniah (belanja, konsumsi) dan kebutuhan spiritual.
Pesan Penutup: Jadilah Pemimpin Bagi Diri Sendiri
Waktu di bulan Ramadhan bagaikan pedang (Al-waqtu kassaif); jika kita tidak menguasainya, maka waktu yang akan menebas kita. Jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja karena kita terlena oleh urusan duniawi. Sambutlah Ramadhan dengan hati yang lapang, niat yang tulus, dan kesiapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sumber : Pandawa Radio - https://youtu.be/YhWsDmkldDM?si=t_Scfu51sPvSWjlS
