Kaya Laut, Miskin Aksi: Salah Siapa Perikanan Budidaya Kepri?
Tanjungpinang, (11/02/2026) - Kepulauan Riau merupakan wilayah dengan karakteristik unik, di mana 97% wilayahnya adalah lautan dan hanya 3% berupa daratan. Namun, terlepas dari potensi geografis yang luar biasa ini, kontribusi sektor perikanan terhadap ekonomi daerah dinilai belum signifikan. Dalam program "Sudut Mata" di Pandawa Radio, Dr. Muzahar mengupas tuntas mengapa potensi ini masih menjadi wacana dan langkah aksi apa yang diperlukan.
Fokus pada Budidaya: Bukan Sekadar Menangkap
Dr. Muzahar menjelaskan bahwa sektor perikanan terbagi menjadi dua: perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Hingga saat ini, kontribusi ekonomi Kepri belum maksimal karena kita belum fokus menggarap perikanan budidaya secara industrial. Skala usaha yang ada saat ini mayoritas masih kecil-kecil dan belum terintegrasi dari hulu ke hilir.
Beliau mencontohkan keberhasilan Kabupaten Bantaeng di Sulawesi Selatan yang hanya memiliki garis pantai 23 km, namun mampu memaksimalkan seluruh pantainya untuk budidaya rumput laut. Jika dibandingkan dengan Kepri yang memiliki ribuan pulau, potensinya jauh lebih raksasa jika kita mau fokus pada komoditas tertentu.
Siput Gonggong: Ikon Lokal yang Perlu Dibudidayakan
Sebagai pakar yang menempuh studi S3 khusus tentang Siput Gonggong, Dr. Muzahar membagikan fakta menarik :
- Kesehatan: Mitos bahwa Gonggong tinggi kolesterol adalah keliru. Jika dimasak dengan cara direbus saja (tanpa minyak/santan berlebih), kadar kolesterolnya relatif rendah.
- Vitalitas: Gonggong mengandung peptida yang dapat meningkatkan vitalitas, yang kini telah dikembangkan menjadi produk inovasi seperti Kopi Gonggong.
- Keberlanjutan: Tantangan terbesar saat ini adalah Gonggong masih mengandalkan hasil alam (eksploitasi). Dr. Muzahar menekankan pentingnya penguasaan teknologi budidaya agar ketika permintaan industri meningkat, stok alam tidak punah.
Komoditas Unggulan dan Penguasaan Teknologi
Berdasarkan kesiapan teknologi, Kepri sebenarnya sudah mampu menguasai beberapa komoditas secara penuh, seperti:
- Ikan Kakap Putih & Kerapu: Sudah dikuasai dari pembenihan hingga pembesaran.
- Rumput Laut: Sangat potensial dikembangkan di wilayah seperti Lingga dan Moro.
- Teripang: Memiliki nilai ekonomi sangat tinggi (bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram kering), namun saat ini teknologi budidayanya masih banyak dikuasai oleh pihak asing di beberapa wilayah Kepri.
Tantangan dan Langkah Aksi Nyata
Mengapa bantuan pemerintah seringkali tidak berkelanjutan? Dr. Muzahar menyoroti lemahnya pengawasan dan pembinaan lanjutan. Seringkali bantuan berhenti setelah satu siklus panen. Untuk maju, diperlukan:
- Promotor & Regulator: Pemerintah Provinsi harus menjadi motor penggerak utama karena wilayah laut adalah wewenang provinsi.
- Industrialisasi: Membangun rantai industri yang lengkap, mulai dari penyediaan benih, pakan, pembesaran, hingga pabrik pengolahan untuk nilai tambah (added value).
- Pemasaran: Menjamin pasar bagi pembudidaya agar mereka memiliki kepastian penghasilan.
Potensi laut Kepri yang melimpah hanya akan menjadi wacana jika tidak dibarengi dengan aksi nyata dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi (seperti UMRAH), dan pelaku usaha. "Kita harus melakukan aksi nyata, mulai dari perencanaan hingga pemasaran yang berkeadilan," pungkas Dr. Muzahar.
Sumber : Pandawa Radio - https://youtu.be/D2Zqtz4jyMY?si=Dy5xhVgwZ-Ybc9K_
- Hits: 7