Seluk Beluk Perayaan Pagan dan May Day Buruh

Ditulis oleh Nora
Kategori: Berita Dibuat: Selasa, 02 Mei 2017 11:34

Pandawa FM (Tanjungpinang),- Satu Mei merupakan hari raya besar kaum buruh dan kelas pekerja progresif yang sadar akan identitas kelasnya. Hari itu para pekerja menunjukkan solidaritas dengan turun ke jalan, saling menjaga, dan mengingat betapa perjuangan buruh telah membawa banyak perubahan. Hak untuk cuti, delapan jam kerja, hak berserikat, hak untuk mendapatkan pesangon, hak untuk kesehatan, hak untuk mendapatkan hari libur, hingga kesetaraan upah bagi laki-laki dan perempuan adalah hak yang diperoleh dari perjuangan kaum buruh. Satu Mei sebagai sebuah momen bagi buruh telah melewati masa yang panjang.

 

Perayaan hari buruh internasional satu Mei berawal dari perjuangan 200.000 buruh di Amerika pada 1886 yang melakukan mogok massal menuntut delapan jam kerja. Pada satu Mei 1886, aksi yang mulanya damai ini berubah menjadi panas karena represi aparat. Hingga pada empat Mei para buruh tidak hanya mogok tapi juga melakukan aksi fisik yang dikenal dengan nama Haymarket Affair dan melakukan bentrok fisik dengan aparat. Pada satu Mei 1889 Konferensi Sosialis Internasional memperingati Haymarket affair sebagai hari libur bagi para buruh. Namun, jauh sebelum buruh memperingati satu Mei sebagai hari besar mereka, kaum pagan pada masa silam menggunakan satu Mei atau malam 30 April untuk perayaan terhadap jagat raya. Perayaan ini menjadi penanda beralihnya musim, atau peringatan terhadap peristiwa penting dalam kalender masyarakat pagan. Beberapa negara merayakan apa yang disebut Walpurgisnacht (Malam 30 April) menjelang satu Mei. Meski dirayakan dengan cara berbeda, tapi perayaan Walpurgisnacht punya tujuan yang sama, yaitu rasa syukur pada alam. 

Perayaan Walpurgisnacht ditemukan di negara-negara seperti Finlandia, Belanda, Jerman, dan Swedia. Di Finlandia Hari Walpurgis merupakan perayaan besar setara dengan malam Natal, malam Tahun Baru, dan perayaan musim panas. Perayaan ini dilakukan malam 30 April dan dilanjutkan hingga pagi satu Mei, para warga meminum Sima, sparkling wine, kue yang dibuat sendiri, dan merayakan karnaval serta piknik makan di taman bersama kerabat. Sementara itu bagi kaum borjuis, bisa menyewa satu tenda besar yang diisi dengan makanan mewah, musik, dan dansa-dansi. Di Jerman perayaan hari buruh tidak dijadikan hari libur sampai 1933, sebelumnya seperti juga di Finlandia, satu Mei digunakan sebagai perayaan pagan Walpurgisnacht yang melibatkan api unggun, Maibaum (tiang dansa) dan anak muda menari untuk bersosialisasi.

Meski demikian ada sejarah yang lebih gelap lagi, di Jerman perayaan menjelang satu Mei adalah perayaan Hexennacht atau malam penyihir, di mana penyihir jahat merayakan munculnya lengkung pelangi sebagai penanda musim semi di Puncak Blocksberg, di Gunung Harz Utara Jerman. Salah satu penanda perayaan menjelang satu Mei adalah api unggun raksasa yang dibakar sejak malam 30 April . Hal ini muncul Jerman, Swedia, Belanda, dan Finlandia. Ini dilakukan untuk mengusir roh jahat, kesialan, dan juga setan-setan. Walpurgisnacht muncul di berbagai karya sastra sebagai perayaan yang dekat dengan sihir. Misalnya dalam Faust karya Goethe, atau dalam buku Magic Mountain karya Thomas Mann, dan drama karya Edward Albees yang berjudul Who's Afraid of Virginia Woolf? yang dibuat pada 1962. Sebelum adanya hari buruh, di Inggris kaum tani dan borjuis menggunakan satu Mei sebagai perayaan pagan Anglo Saxon dalam tradisi Celtic yang menggunakan tiang dansa dan Morris Dancing dan memilih satu Mei.

Di abad pertengahan masyarakat Inggris dipengaruhi tradisi orang-orang Italia di Roma, masyarakat di pinggiran Inggris mengumpulkan berbagai bunga yang mekar dan daun segar menjadi karangan bunga. Bunga ini dikumpulkan sebagai pajangan, beberapa digunakan sebagai mahkota untuk gadis-gadis muda desa. Tradisi pagan memang sangat lekat dalam perayaan satu Mei. Ini yang menyebabkan banyak agamawan menentang perayaan ini sebagai perilaku fasik dan berdosa. Oliver Cromwell, kelompok puritan agama, pada 1660 mengeluarkan aturan melarang perayaan berdansa saat satu Mei. Ia menganggap perayaan itu sebagai kesia-siaan. Charles II, penguasa Inggris yang hidup setelah Cromwell mengembalikan tradisi itu di London dengan membangun tiang kayu dansa raksasa setinggi 40 meter dan bertahan nyaris selama lima puluh tahun. Di pusat desa ada tiang dansa besar (Maypole), yang diikat dengan tali atau kain warna warni, tali tersebut panjang dan digunakan untuk berdana diiringi oleh alat musik. Para pemuda dan pemudi terpilih diminta menari dan dua orang yang beruntung diberi gelar Raja dan Ratu Mei yang memimpin pemuda-pemudi desa untuk menari. Tradisi ini akhirnya dihentikan saat kelompok puritan Kristen menganggap hal ini sebagai ajaran kafir dan terlarang karena menyembah tuhan pagan.

Satu Mei dalam tradisi pagan Eropa digunakan sebagai hari perayaan di mana musim semi datang, banyak para pengikut pagan menggunakan kesempatan ini untuk menemukan jodoh dan menikah. Anak-anak muda mencari pasangan saat pesta satu Mei di pusat desa, mereka berdansa membawakan bunga, dan menari bersama para kekasih seperti yang ada di Ceko, Lituania, Latvia, Swedia, dan Estonia. Di Perancis pada satu Mei 1561 Raja Charles IX mendapatkan bunga lili (Convallaria majalis) sebagai jimat keberuntungan, ia lantas memutuskan memberikan bunga lili untuk perempuan yang beruntung. Pesta ini diselenggarakan untuk bangsawan dan keluarga kerajaan. Di Italia perayaan satu Mei dikenal sebagai Calendimaggio, hari itu orang-orang bersyukur atas datangnya musim semi. Mereka bertukar hadiah yang berupa kebutuhan sehari-hari seperti telur, makanan, dan buah-buahan. Perayaan ini masih bisa ditemui ragamnya di kota-kota di Italia seperti Piedmont, Liguria, Lombardy, Emilia-Romagna Tuscany, dan Umbria. Perayaan ini juga dijadikan kesempatan bagi banyak orang Italia untuk berbagi makanan, menikmati anggur, dan keluar rumah.

Di Yunani, satu Mei adalah perayaan dewi Maia atau Dewi Kesuburan. Perayaan ini merupakan rasa syukur karena musim dingin berakhir, ditandai dengan pesta saat gadis-gadis muda menyanyi dengan hiasan rambut di kepala. Tradisi ini muncul sebagai penghormatan terhadap dewa hiburan, puisi, dan anggur Dionysus yang dianggap membawa kebahagiaan. Perayaan ini sangat erat dengan perayaan untuk dewa pertanian Demeter dan putrinya Persepon yang diselenggarakan pada Februari di Yunani kuno, dipercaya panen yang baik akan menghasilkan anggur yang baik. Satu Mei memang banyak menjadi momen berbagai perayaan di dunia, tapi bagi buruh satu Mei sebagai spirit untuk terus memperjuangkan kepentingan nasib mereka.

Sumber : tirto.id